Berbicara mengenai sejarah pendidikan di Indonesia, maka kita juga
berbicara mengenai jaman. Pendidikan akan terus mengalami perubahan sejalan
dengan berkembangnya jaman. Dari mulai tujuan, sistem pengajaran dan pendidikan
serta masalah dan solusi pemecahannya. Buku ini membahas pendidikan di
Indonesia dari mulai sebelum masa penjajahan belanda, masa penjajahan belanda
dan pada abad ke-20.
Sebelum masa penjajahan,
proses pendidikan sudah ada sejak masuknya berbagai agama seperti Hindu, Budha
dan Islam. Namun masih berorientasi pada proses penyebaran agamanya masing –
masing. Pada masa peradaban Budha, proses pendidikan muncul ketika para musafir
Cina singgah ke Indonesia (Jawa) untuk belajar gramatikal bahasa sansakerta dan
penerjemahan kitab – kitab Budha oleh guru – guru besar yang ada di Indonesia.
Pada masa peradaban Hindu,
dikenal system kasta dimana kaum brahmana yaitu kaum ulama yang
menyelenggarakan pendidikan dan pengajaran sastra, bahasa, ilmu kemasyarakatan,
ilmu eksakta (perbintangan, ilmu pasti dan perhitungan), seni bangunan, seni
rupa dan ilmu pengetahuan lainnya. Pendidikan pada masa peradaban Hindu banyak
dipengaruhi oleh pendidikan yang ada di India. Namun, pada perkembangannya
kemudian kebudayaan Hindu tersebut semakin berbaur dengan kebudayaan asli
Indonesia sehingga menimbulkan ciri serta coraknya yang khas.
Sampai jatuhnya kerajaan
Hindu terakhir di Indonesia yaitu Majapahit pada abad ke-5, ilmu pengetahuan
pun semakin berkembang, khususnya dalam bidang sastra, bahasa, ilmu
pemerintahan, tata Negara dan hukum. Kerajaan – kerajaan Hindu pun akhirnya
mencetak empu – empu yag menghasilkan karya – karya yang bermutu tinggi salah
satunya yang terkenal yaitu “Sotasoma” karya empu Tantular.
Namun pada abad terakhir
menjelang jatuhnya kerajaan Hindu di Indonesia, proses penyelenggaraan
pendidikan pun tidak sebesar sebelumnya. Mereka hanya menyelenggarakan
pendidikan di padepokan. Dimana hanya kaum ulama yang mengajarkan ilmu
pengetahuan umum dan yang bersifat religius kepada siswanya dalam jumlah yang
terbatas. Siswanya pun dituntut agar bisa memenuhi kebutuhannya sendiri dengan
bekerja. Sifat pendidikan tersebut tidak formal sehingga banyak siswa yang
tidak puas dan berusaha mencari dan berpindah – pindah guru. Untuk
pendidikan kejuruan atau keterampilan pada masa itu disesuaikan dengan kastanya
masing – masing.
Pada masa peradaban Islam, mulanya
proses pendidikannya dilakukan oleh para Gujarat di kerajaan – kerajaan
pesisir. Karena kerajaan pesisir lah yang mengalami banyak interkasi dengan
bangsa asing dibanding dengan kerajaan pusat yang berada di pedalaman. Pada
waktu itu Islam disambut dengan baik oleh kerajaan pesisir dan mereka segera
memisahkan diri dari ajaran kerajaan pusat. Setelah itu Islam langsung
berkembang pesat di Indonesia. System pendidikan dan pengajaran pada masa
peradaban Islam ada 3 yaitu pendidikan di langgar, pesantren dan madrasah yang
masing – masing memiliki ciri tertentu. Sampai sekarang pun model pendidikan
peradaban Islam masih tetap bertahan.
Masa peralihan dari agama Hindu ke
Islam berjalan secara damai dan tenang. Pada saat itu ada dua tipe guru,
pertama guru keraton atau kaum bangsawan yang dipanggil ke keraton untuk
mendidik anak – anak raja dan ksatria lainnya. Kedua, guru petapa yang bertapa
di tempat – tempat menyendiri dan mempelajari ilmu – ilmu keTuhanan. Di guru
yang kedua inilah para penyebar agama Islam banyak berhubungan sehingga melalui
mereka ajaran Islam tersebar luas di Indonesia. Guru – guru petapa ini yang
pada akhirnya disebut Wali Songo.
Setelah masa masuknya agama Hindu,
Budha dan Islam. Mulailah berdatangan para penjajah yang ingin menguasai
seluruh wilayah Indonesia guna mengambil seluruh hasil rempah – rempah. Mereka
juga memberikan pendidikan terhadap masyarakat Indonesia namun orientasinya
masih tetap pada proses penyebaran agama yang dibawanya.
Pada masa penjajahan bangsa Portugis,
setelah berhasil menduduki beberapa daerah Indonesia bagian timur, mulailah
mereka menjadikan penduduk setempat menganut ajaran yang mereka bawa yaitu Roma
Katholik. Dan segera memberikan pendidikan kepada masyarakat untuk memperdalam
agama tersebut oleh Fransiscus Xavierus. Dan kemudian pada tahun 1536, mereka
mendirikan sekolah untuk anak – anak dari pemuka Bumiputera. Pelajaran yang
disampaikan adalah agama, membaca, menulis dan berhitung.
Pada akhirnya,
baik penyebaran agama dan pendidikannya tidak mengalami kemajuan karena selain
kurang baiknya hubungan dengan kerajaan Ternate, mereka juga harus berperang
melawan bangsa Spanyol dan Inggris. Dan Belanda lah yang akhirnya menghalau
Portugis dan mengambil alih segala harta benda termasuk gereja.
Setelah
menaklukkan portugis, VOC mengambil alih seluruh gereja dan mengusir seluruh
padri – padri dan menjadikan gereja tersebut sebagai tempat pengajaran dan
pendidikan agama nasrani (Kristen - Protestan). Dan memperluas jangkauan
pendidikannya dengan mengambil alih lembaga – lembaga pendidikan bekas Portugis
dan menambahkan sekolah – sekolah baru. Sama halnya dengan bangsa Portugis, VOC
mendirikan sekolah – sekolah untuk menyebarluaskan agama mereka yaitu
Kristen-Protestan.
VOC terus
meluaskan daerah kekuasaanya sampai pada akhirnya mereka banyak mendirikan
jenis – jenis persekolahan yang juga mempunyai tujuan tertentu. Seperti
Pendidikan Dasar, Sekolah Latin, Seminarium Theologicum, Akademi Pelayaran dan
Sekolah Cina. Kurikulum – kurikulumnya pun beragam.
Pada akhir abad
ke-18 dan menjelang abad ke-19, VOC mengalami kemunduran sehingga tidak dapat
berfungsi lagi sebagai lembaga yang mengatur pemerintahan dan masyarakat daerah
Hindia – Belanda. Pemerintahan tersebut dilakukan secara tidak langsung oleh
pemerinah Belanda kepada kaum Bumiputera guna mempertahankan status quo. Pada
masa ini pendidikan tidak didasari lagi atas agama tertentu karena telah
masuknya pola pemikiran Eropa sehingga mempengaruhi kebijakan – kebijakan pada
umumnya.
Pemikiran
tersebut dinamakan “Aufklarung” (Fajar atau Terang). Aliran tersebut dicetuskan
pada abad ke-17 yang di bawa oleh salah satu tokoh berpengaruh yaitu J. J.
Rousseau. Rousseau menganjurkan agar peserta didik diberikan kebebasan untuk
memilih agamanya sendiri. Dengan kata lain aliran ini menjunjung tinggi
toleransi beragama. Sehingga dimulai pada saat ini gereja tidak lagi memiliki
peranan dalam pendidikan. Disinilah asal mulanya pemerintah atau negara yang
memegang kendali pendidikan sehingga muncul sekolah – sekolah negeri.
Seiring dengan
pemikiran tersebut, pemerintah Hindia – Belanda sangat disayangkan masih hanya
membuka sekolah – sekolah untuk anak – anak dari kaum terpandang atau bangsawan
saja. Pembatasan sekolah berdasarkan status social ini dirasakan sampai tahun
1912. Tidak heran jika pada saat itu mereka yang sadar bahwa pendidikan dapat
memperoleh status social yang baik dan memperbaiki kehidupan, mendirikan
sekolah – sekolah swasta yang berorientasi Barat.
Pada saat Inggris
mengambil alih pemerintahan Hindia – Belanda, pendidikan tidak mendapat
perhatian, tetapi pemerintahan yang dipimpin Raffles itu lebih memusatkan
perhatiannya terhadap ilmu pengetahuan yang pada akhirnya bidang tersebut
mengalami kemajuan yang sangat pesat. Raffles banyak mendukung kegiatan – kegiatan
yang bersangkutan dengan ilmu pengetahuan sehingga pada pemerintahannya,
Raffles mendapatkan lebih banyak pengetahuan mengenai pulau Jawa disbanding
dengan VOC.
Pemerintahan
Inggris pun jatuh kembali ke tangan pemerintahan colonial Belanda tepatnya pada
tahun 1816. Pada masa itu, belum ada sama sekali sekolah negeri. Setahun
kemudian Belanda pun mendirikan kembali sekolah – sekolah yang dikhususkan
untuk bangsa Eropa dan Bumiputera. Namun sekolah – sekolah yang dikhususkan
untuk Bumiputera bertujuan demi kepentingan politik dan ekonomi bangsa Belanda.
Karena mereka berpikir bahwa tanpa bantuan dari Bumiputera, administrasi
pemerintahan maupun pekerja bawahan dan pembangunan ekonomi tidak akan
berhasil.
Pada permulaan
abad ke-20, di seluruh permukaan bumi terdapat perkembangan dan pembaharuan
khususnya di bidang politik, ekonomi dan idiil, demikian juga di Indonesia.
Perusahaan – perusahaan di Eropa sedang mengalami perkembangan yang pesat
sehingga mereka membutuhkan tenaga pekerja yang terdidik dan ahli. Pada masa
ini Van Deventer tidak hanya membuka sekolah untuk kaum Bumiputera melainkan
juga membuka sekolah untuk golongan bawah berupa sekolah – sekolah desa.
Dibalik semua itu, tujuan dari pendidikan tersebut adalah untuk memenuhi tenaga
buruh guna memenuhi kepentingan modal Belanda.
Selain menjadi
buruh, ada juga yang diangkat menjadi pekerja – pekerja kelas dua yang ahli di
bidangnya masing – masing seperti pertanian, teknik, administrasi dan lain –
lainnya. Singkatnya, tujuan pendidikan ini adalah memperoleh tenaga kerja yang
murah dan meraup keuntungan atau modal yang sangat besar untuk Belanda. Seluruh
system tersebut tergantung pada pola penggolongan karena pemerintahan Hindia –
Belanda masih berusaha mempertahankan system kolonialnya melalui aristokrasi.
Secara umum setiap golongan memiliki jalur pendidikannya masing – masing dari
sekolah dasar hingga ke perguruan tinggi
Perkembangan
pendidikan dasar berkembang terus sampai tahun 1930 dan kemudian terhenti
karena krisis dunia (Malaise), tidak terkecuali Hindia – Belanda. Hal ini
menyebabkan banyak sekolah – sekolah desa ditutup, dan juga dikarenakan
penduduk desa kesulitan mendapatkan uang untuk menyekolahkan anaknya. Pada masa
ini jumlah sekolah – sekolah lainnya juga mengalami penurunan. Walaupun
demikian jumlah murid tidak turun, melainkan tetap naik. Akibatnya adalah
banyak sekolah yang sebetulnya tidak memenuhi syarat sebagai tempat menuntut
ilmu.
Pada tahun 1940,
Jepang dalam rangka mencapai “Kemakmuran Bersama Asia Raya” mengajak bangsa –
bangsa Asia termasuk Indonesia untuk bekerja sama dalam perkembangan ekonomi
dan industry, sebagai pusatnya Jepang itu sendiri. Karena dianggap suatu
keharusan maka rencana tersebut oleh kalangan militer diterima dan disambut
dengan hangat karena menjanjikan prestise – prestise kepahlawanan dan
pengabdian. Disampig semua itu bangsa Indonesia malah bertambah miskin dan
menderita demi untuk kepentingan perang Jepang.
Karena Indonesia
sebagai pusat bahan mentah, maka pendidikan yang diberikan oleh bangsa Jepang lebih
ke bidang kemiliteran. Karena memenangkan perang merupakan tujuan utamanya.
Namun hasilnya sangat luar biasa bagi bangsa Indonesia di kemudian hari, yaitu
penggunaan bahasa Indonesia sebagai bahasa pengantar dan bahasa jepang sebagai
bahasa kedua. Penggunaan bahasa belanda sangat dilarang pada masa itu. Secara
nyata tujuan pendidikan pada jaman Jepang adalah mencptakan tenaga – tenaga
pekerja cuma – cuma (Romusha) dan tentara – tentara untuk membantu Jepang dalam
peperangan. Oleh karena itu banyak pelajar Indonesia yang diharuskan mengikuti
pelatihan fisik, kemiliteran dan indoktrinasi ketat.
Sejak jaman ini
system penggolongan dihapuskan, sehingga semua golongan mampu memperoleh
pendidikan yang sama. Pada masa ini pula sekolah rakyat berubah nama menjadi
sekolah dasar yang lama pendidikannya selama enam tahun. Sekolah menengah dan
kejuruan selama 3 tahun, dan hamper seluruh pendidikan tinggi ditutup, tetapi
yang masih ada ialah Sekolah Tinggi Kodekteran di Jakarta (sekarang FKUI di
Salemba) dan Sekolah Tinggi Teknik di Bandung (sekarang ITB). Dan Jepang
membuka lagi Sekolah Tinggi Pemongpraja di Jakarta dan Sekolah Kedokteran Hewan
di Bogor.
Sistem
persekolahan pada jaman Jepang tidak berbeda jauh dengan system persekolahan
setelah kemerdekaan. Yang berbeda hanya nama sekolah, sedang jenis sekolah
kejuruan apalagi perguruan tinggi yang sangat terbatas. Kesempatan belajar pun
terbuka lebar bagi siapa saja dengan kata lain semua mendapat kesempatan yang
sama.

Keadaan
pendidikan dan pengajaran pada jaman Jepang mengalami banyak penurunan yang
drastis baik dari segi jumlah sekolah, murid dan guru. Dalam bidang pendidikan
pada jaman Jepang memperlihatkan kemuduran yang menyolok. Walaupun terjadi
banyak kemunduran, banyak keuntungan – keuntungan yang didapat bangsa
Indonesia.
Walaupun
kemerdekaan pun telah diproklamasikan, namun masih ada beberapa daerah yang
masih dikuasai oleh tentara sekutu. Oleh tentara sekutu bagian – bagian lain
diserahkan kepada tentara Inggris. Namun hal tersebut mendapat perlawanan dahsyat
bangsa Indoenesia yang menimbulkan banyak pertumpahan darah dari kedua belah
pihak. Merasa tidak ingin terlibat lebih jauh, akhirnya digantikan oleh Belanda
dan segera mendaratkan pasukannya di seluruh Indonesia.
Dalam usaha
memperoleh kembali Indonesia secara utuh, bangsa Indonesia telah banyak
mengadakan perjanjian oleh pihak Belanda diantaranya Linggarjati (November
1946), Renville (Januari 1948) dan KMB (November 1949). Setelah proklamasi
kemerdekaan Indonesia, maka perubahan tidak hanya terjadi di pemerintahan saja
namun juga dalam bidang pendidikan. Pendidikan disesuaikan dengan dasar dan cita – cita dari Bangsa dan Negara
Merdeka. Oleh karena itu UUD 1945 dan pancasila lah yang dijadikan landasan
idiil pendidikan Indonesia. Walaupun UUD mengalami banyak
perubahan namun dasar negara kita tetap sama. Maka Pancasila tetap menjadi
landasan idiil pendidikan Indonesia. Tujuan pendidikan pada masa ini lebih
menekankan penanaman semangat patriotism agar menjadi warga Negara yang sejati
yang menyumbangkan tenaga dan pikirannya untuk Negara dan bangsa.
Hal tersebut
dilakukan sesuai dengan kondisi yang dialami bangsa Indonesia pada masa itu,
Negara dan bangsa sedang mengalami perjuangan fisik dan sewaktu – waktu bangsa
Belanda masih akan berusaha menjajah kembali Indonesia. Oleh karena itu dirasa
sangat penting penanaman semangat patriotisme agar kemerdekaan Indonesia dapat
dipertahankan dan diisi.
Dan pada bulan
Desember 1949, UUD 1945, diganti dengan Konstitusi Sementara Republik Indonesia
Serikat. Landasaan idiil pendidikan Indonesia tidak berubah namun tujuannya
berubah. Sebagai warga Negara yang sudah merdeka dan menganut system demokrasi
maka tujuan pendidikannya pun harus menghasilkan warga Negara yang demokratis
pula. System persekolahannya tidak jauh berbeda dengan masa penjajahan Jepang,
yaitu pendidikan dasar (6 tahun), pendidikan menengah (masing – masing 3
tahun), dan pendidikan tinggi. Semuanya dibuka untuk umum tidak ada lagi
berdasarkan penggolongan – penggolongan tertentu.
Karena semua
sekolah dibuka lebar – lebar untuk semua lapisan masyarakat maka minat akan
memperoleh pendidikan pun semakin tajam sehingga memaksa pemerintah untuk
melakukan usaha usaha yang mengharuskan pemerintah untuk menampung hasrat dan
keinginan belajar mereka. Diantaranya menambah jumlah sekolah rakyat, menambah
durasi pendidikan sekolah rakyat menjadi 6 tahun dan menambah mutu dan tingkat
pendidikan.
Bukan hanya itu,
hal tersebut juga mengharuskan pemerintah untuk memperbaiki segala fasilitas
sekolah, menambah tenaga pengajar dan mengubah kurikulum yang semula demi
kepentingan colonial manjadi selaras dengan kebutuhan bangsa yang merdeka.
Perubahan – perubahan tersebut sudah tentu memerlukan biaya. Seberapa besar
biaya yag dikeluarkan sangat sulit diperoleh, mengingat periode ini merupakan
periode fisik dalam mempertahankan kemerdekaan.






0 komentar:
Posting Komentar