
Selama ini, banyak di antara kita yang masih salah kaprah dengan menganggap HIV dan AIDS itu adalah sama. Keduanya dianggap sebagai penyakit yang sama padahal keduanya jelas memiliki perbedaan walau memang memiliki keterkaitan atau hubungan yang amat sangat dekat. Lalu, apa sih HIV dan apa itu AIDS? Ada baiknya kita mengenal keduanya dengan baik agar tidak salah memberikan pengertiannya. HIV atau kepanjangan dari human immunodeficiency syndrome adalah virus yang menyerang sistem kekebalan tubuh manusia. Sedangkan AIDS atau kepanjangan dari acquired immune deficiency syndrome adalah penyakit yang disebabkan karena HIV. Jadi, bila HIV adalah sebab, maka AIDS adalah akibat. HIV berupa virus yang menjadi awal terjangkitnya AIDS
Proses dari HIV menuju AIDS berbeda- beda, tergantung bagaimana sistem kekebalan tubuh setiap orang. Ada yang membutuhkan waktu sekitar 5 – 10 tahun, dan ada pula yang hanya membutuhkan waktu beberapa bulan. Karena virus ini menyerang kekebalan tubuh, kembali lagi virus ini tergantung kepada sistem imun seseorang. Bila kondisi penderita sangat lemah, proses dari HIV menjadi AIDS bisa hanya dalam hitungan bulan saja. Begitupun sebaliknya. Seseorang yang sudah divonis terinfeksi HIV bisa jadi tidak sampai terkena AIDS bila segera diberi penanganan dengan baik. Bisa saja penderita tersebut hanya terinfeksi HIV seumur hidupnya, tanpa AIDS. Namun, memang sebagian besar, siapapun yang sudah terinfeksi HIV, cepat atau lambat akan terkena AIDS.
Bisa dikatakan HIV adalah akarnya, sedangkan AIDS adalah pohonnya. Sehingga, bila ingin memberantas, seharusnya dari awal sejak divonis HIV dan tak harus menunggu menjadi AIDS. HIV menjadi awal terjadinya penyakit AIDS yang mematikan. Maka, sebelum AIDS itu menyerang sebaiknya menghindari hal-hal yang bisa membuat kita terjangkit virus HIV.
Begitu besar ketakutan ODHA (Orang Dengan HIV/AIDS) seandainya mereka harus mengaku bahwa mereka pengidap HIV/AIDS. Mereka takut dikucilkan di tengah-tengah masyarakat mengingat stigma negatif penyakit ini sangat kuat. Masyarakat beranggapan bahwa pengidap HIV/AIDS perlu dijauhi. Hal ini disebabkan oleh kurangnya informasi dan kekeliruan pola pikir masyarakat tentang HIV/AIDS, mereka hanya menilai ODHA penuh dengan keburukan. Pemikiran ini yang harus di ubah agar masyarakat tahu bahwa benar HIV/AIDS adalah penyakit mematikan yang sepatutnya kita hindari, maka dari itu jauhi penyakitnya, bukan orangnya. Agar ODHA merasa nyaman berada di tengah-tengah masyarakat tanpa rasa takut.
Stigma negatif yang hinggap pada pasangan serodiskorda, yaitu pasangan yang salah satu diantaranya adalah pengidap HIV/AIDS mempersulit jangkauan pencegahan. Anggapan bahwa ancaman HIV/AIDS hanya berlaku bagi pemilik sifat yang beresiko terkadang membuat pasangannya mengabaikan aspek kesehatan dan merasa tidak perlu untuk memeriksakan status infeksinya. Padahal, kesadaran akan pencegahan dini HIV/AIDS sangat penting dan dianjurkan di semua kalangan agar seandainya kelak sepasang kekasih menikah, mereka tidak melahirkan keturunan pengidap HIV/AIDS juga.
Peran serta pemerintah dalam memberikan pendidikan serta pengetahuan kepada masyarakat menunjukkan hasil yang baik, namun pendidikan dan pengetahuan yang diberikan oleh pemerintah tidaklah cukup untuk mengubah stigma yang terlanjur tertanam di tengah masyarakat kepada ODHA. Suatu pola pikir yang sudah melekat sejak lama di dalam masyarakat sangat sulit dihilangkan atau hanya sekedar diubah. Masyarakat membutuhkan pembuktian yang nyata dalam kehidupan bermasyarakat untuk merubah stigma tersebut. Segala tindakan yang dilakukan oleh ODHA akan menjadi sorotan bagi masyarakat.
HIV/AIDS merupakan momok yang menakutkan dalam masyarakat, karena disebut-sebut sebagai penyakit yang tidak bisa sembuh dan sejauh ini belum ditemukan obat untuk menyembukan HIV/AIDS. Ketakutan ini memunculkan beberapa mitos dan fakta seputar HIV/AIDS.
Berikut adalah mitos dan fakta HIV/AIDS yang berkembang di masyarakat:
Terinfeksi HIV sudah pasti terkena AIDS (Mitos)
HIV adalah virus yang menyerang sistem kekebalan tubuh sehingga membuat tubuh sulit untuk melawan penyakit. Penderita HIV belum tentu juga menderita AIDS. Bahkan dengan perawatan yang tepat para penderita HIV dapat bertahan tanpa berkembang menjadi AIDS.
Sulit terkena HIV dari kontak langsung (Fakta)
Kebanyakan orang beranggapan bahwa penderita HIV harus dijauhi karena takut tertular. Padahal kenyataannya, virus tidak akan menyerang hanya dengan memeluk atau bersentuhan (pegangan tangan). Virus dapat menyebar jika Anda melakukan hubungan seksual maupun berbagi jarum suntik.
Waktu hidup singkat (Mitos)
Virus HIV bisa memiliki efek berbeda pada setiap orang. Ada yang dalam beberapa bulan, virus HIV sudah berkembang menjadi AIDS dan langsung melemahkan sistem kekebalan tubuh. Namun ada juga beberapa orang yang dapat bertahun-tahun bertahan tanpa harus berkembang menjadi AIDS.
HIV dapat disembuhkan (Mitos)
Hingga saat ini belum ditemukan obat untuk menyembuhkan penyakit tersebut. Tetapi ada perawatan dengan melakukan terapi antiretroviral (ART) untuk melemahkan virus dan membantu sistem kekebalan tubuh. Tetapi dokter akan mempertimbangkan terlebih dahulu kesehatan umum, kesehatan sistem kekebalan serta jumlah virus yang ada dalam tubuh. Tujuannya adalah untuk memutuskan kapan dapat dimulai pengobatannya.
Ibu hamil pengidap HIV dapat menularkan pada bayinya (Fakta)
Ibu yang terinfeksi virus HIV dapat menularkan kepada bayinya selama proses kehamilan atau pun melahirkan. Namun, Anda dapat menurunkan risiko tersebut dengan melakukan konsultasi dengan dokter, sehingga pihak medis dapat memberikan perawatan dan pengobatan yang tepat.
Indonesia sendiri merupakan negara yang di setiap daerahnya terdapat penderita HIV. Hampir setiap provinsi dan kabupaten melaporkan adanya kasus HIV. Peningkatan prevalensi seks bebas banyak terjadi di kota-kota besar bahkan desa terpencil sekalipun. Seks bebas tidak pandang usia, kasus ini mengintai banyak kalangan mulai dari usia remaja sampai usia senja yang menyukai hal-hal berbau sensual. Hal ini membuat rantai HIV/AIDS sulit untuk diputus, sebab sangat sedikit bahkan tidak ada kesadaran dan perubahan sikap yang signifikan terhadap kasus seks bebas. Artinya, selama di Indonesia seks bebas masih dianggap umum, selama itu pula HIV/AIDS menjadi ancaman dan terus memakan korban.
Pada akhir September 2007 jumlah kumulatif kasus AIDS yang dilaporkan sebanyak 10.384 dan kasus HIV sebanyak 5.904. Secara berurutan jumlah penderita paling banyak adalah di Jawa Barat, Jawa Timur, DKI Jakarta, Papua, Bali, Kalimantan Barat, Jawa Tengah, Sumatera Utara, Riau, dan Kepulauan Riau. HIV/AIDS sekarang merupakan kasus tertinggi ke empat pada wanita usia 25-44 tahun dan penyebab utama kematian pada wanita kulit hitam pada kelompok umur ini . Pada wanita usia ini merupakan usia subur dan akan mengalami kehamilan yang membutuhkan program khusus dan perhatian dalam transmisi perinatal.
Transmisi vertikal HIV dari ibu ke anak dapat timbul dari intra uterin, selama persalinan atau postpartum. Sehingga dapat meningkatkan angka kematian bayi karena sebagian besar penyebaran HIV/ AIDS melalui transmisi vertikal, apabila lahir dengan selamat kemungkinan bayi tidak terinfeksi kecil dan biasanya terkena pada usia dibawah 5 tahun. Transmisi vertikal timbul mendekati 25-30% dari bayi yang lahir dari ibu yang tidak mendapat pengobatan anti virus selama kehamilan, sedangkan waktu terjadinya infeksi vertikal dari HIV belum dapat ditentukan dengan baik.
Penularan HIV/AIDS berdasarkan berbagai sumber teridentifikasi melalui berbagai kemungkinan hubungan antarpersonal diantaranya sebagai berikut:
1. Melalui hubungan seksual bebas yang tidak melalui pelindung yang aman.
2. Melalui transfusi darah yang tidak diperiksa terlebih dahulu hasil dari transfusi tersebut.
3. Melalui jarum suntik yang tidak stiril.
4. Dari seorang perempuan yang terinfeksi dimana ia sedang mengandung janin, dan bisa terjadi saat pemberian ASI.
5 .Hubungan seksual dalam suatu ikatan perkawinan, dimana salah satu pasangan terinfeksi virus HIV.
6. Dari air liur dan air mata, yang kemudian masuk dalam tubuh orang yang sehat.
Data Statistik HIV/AIDS di Indonesia
Laporan Kasus HIV-AIDS di Indonesia sampai dengan Desember 2013, yang diterima dari Ditjen PP & PL, berdasarkan surat Direktur Jenderal P2PL, Prof. dr. Tjandra Y Aditama, SpP(K), DTM&H tertanggal 14 Februari 2014:
Laporan perkembangan HIV-AIDS di Indonesia, Triwulan IV Tahun 2013. Sejak periode Juli-Desember 2012, terjadi perubahan dan perkembangan data dalam laporan pasca Kegiatan Validasi dan Harmonisasi Data bersama seluruh provinsi di Indonesia bulan Mei 2012. Hal ini dilakukan dalam rangka peningkatan kualitas laporan. Laporan tahun 2012 dan sebelumnya adalah benar-benar kasus ditemukan pada tahun yang bersangkutan.
Laporan perkembangan HIV-AIDS di Indonesia, Triwulan IV Tahun 2013 sebagai berikut:
Situasi Masalah HIV-AIDS Triwulan IV (Oktober-Desember) Tahun 2013
1 . HIV
• Dari bulan Oktober sampai dengan Desember 2013 jumlah infeksi HIV baru yang dilaporkan sebanyak 8.624 kasus.
• Persentase infeksi HIV tertinggi dilaporkan pada kelompok umur 25-49 tahun (70,4%), diikuti kelompok umur 20-24 tahun (16,4%), dan kelompok umur >= 50 tahun (5,3%).
• Rasio HIV antara laki-laki dan perempuan adalah 1:1.
• Persentase faktor risiko HIV tertinggi adalah hubungan seks berisiko pada heteroseksual (52,0%), LSL (Lelaki Seks Lelaki) (14,3%), dan penggunaan jarum suntik tidak steril pada penasun (6,6%).
2 . AIDS
• Dari bulan Oktober sampai dengan Desember 2013 jumlah AIDS yang dilaporkan baru sebanyak 2.845 orang.
• Persentase AIDS tertinggi pada
* kelompok umur 30-39 tahu (26%),
* diikuti kelompok umur 20-29 thun (25,3%) dan
* kelompok umur 40-49 th (11,6%).
* kelompok umur 30-39 tahu (26%),
* diikuti kelompok umur 20-29 thun (25,3%) dan
* kelompok umur 40-49 th (11,6%).
• Rasio AIDS antara laki-laki dan perempuan adalah 2:1.
• Persentase faktor risiko AIDS tertinggi adalah hubungan seks berisiko pada heteroseksual (78%), penggunaan jarum suntik tidak steril pada penasun (9,3%),
LSL (Lelaki Seks Lelaki) (4,3%) dandari ibu positif HIV ke anak (2,6%).
LSL (Lelaki Seks Lelaki) (4,3%) dandari ibu positif HIV ke anak (2,6%).
Situasi Masalah HIV-AIDS Tahun 1987 - Desember 2013
Sejak pertama kali ditemukan tahun 1987 sampai dengan Desember 2013, HIV-AIDS tersebar di 368 (72%) dari 497 kabupaten/kota di seluruh provinsi di Indonesia. Provinsi pertama kali ditemukan adanya kasus HIV-AIDS adalah Provinsi Bali, sedangkan yang terakhir melaporkan adalah Provinsi Sulawesi Barat pada tahun 2011.
1 . HIV
• Sampai dengan tahun 2005 jumlah
kasus HIV yg dilaporkan sebanyak 859,
tahun 2006 (7.195),
tahun 2007 (6.048),
tahun 2008 (10.362),
tahun 2009 (9.793),
tahun 2010 (21.591),
tahun 2011 (21.031),
tahun 2012 (21.511).
kasus HIV yg dilaporkan sebanyak 859,
tahun 2006 (7.195),
tahun 2007 (6.048),
tahun 2008 (10.362),
tahun 2009 (9.793),
tahun 2010 (21.591),
tahun 2011 (21.031),
tahun 2012 (21.511).
• Jumlah kumulatif infeksi HIV yang
dilaporkan smpi dengan Desember
2013 sebanyak 127.427).
dilaporkan smpi dengan Desember
2013 sebanyak 127.427).
• Jumlah infeksi HIV tertinggi yaitu di
1. DKI Jakarta (28.790),
2.Jawa Timur (16.253),
3.Papua (14.087),
4.Jawa Barat (10.198) dan
5.Bali (8.059).
1. DKI Jakarta (28.790),
2.Jawa Timur (16.253),
3.Papua (14.087),
4.Jawa Barat (10.198) dan
5.Bali (8.059).
2 . AIDS
• Sampai dengan tahun 2005 jumlah
kasus AIDS yang dilaporkan
sebanyak (5.003),
- tahun 2006 (3.531),
- tahun 2007 (4.462),
- tahun 2008 (4.995),
- tahun 2009 (5.986),
- tahun 2010 (6.867) dan
- tahun 2011 (7.286),
- tahun 2102 (8.610), dan
- Desember 2013 (5.608).
kasus AIDS yang dilaporkan
sebanyak (5.003),
- tahun 2006 (3.531),
- tahun 2007 (4.462),
- tahun 2008 (4.995),
- tahun 2009 (5.986),
- tahun 2010 (6.867) dan
- tahun 2011 (7.286),
- tahun 2102 (8.610), dan
- Desember 2013 (5.608).
• Jumlah kumulatif AIDS dari tahun 1987 sampai dengan Desember 2013 sebanyak 52.348 orang.
• Persentase kumulatif kasus AIDS tertinggi pada :
A). kelompok umur 20-29 tahun (34,2%),
B). kemudian diikuti kelompok umur 30-39 tahun (29%),
C). 40-49 tahun (10,8%),
D). 15-19 (3,3%), dan
E). 50-59 tahun (3,3%).
A). kelompok umur 20-29 tahun (34,2%),
B). kemudian diikuti kelompok umur 30-39 tahun (29%),
C). 40-49 tahun (10,8%),
D). 15-19 (3,3%), dan
E). 50-59 tahun (3,3%).
• Persentase AIDS pada Laki-laki sebanyak 55,1% dan Perempuan 29,7%. Sementara itu 15,2% tidak melaporkan jenis kelamin.
• Jumlah AIDS tertinggi adalah pada
1.ibu rumah tangga (6.230), diikuti
2. wiraswasta (5.892),
3.tenaga non-profesional/karyawan (5.287),
4.petani/peternak/nelayan (2.261),
5.buruh kasar (2.047),
6.penjaja seks (2.021),
7.pegawai negeri sipil (1.601), dan
8.anak sekolah/mahasiswa (1.268).
1.ibu rumah tangga (6.230), diikuti
2. wiraswasta (5.892),
3.tenaga non-profesional/karyawan (5.287),
4.petani/peternak/nelayan (2.261),
5.buruh kasar (2.047),
6.penjaja seks (2.021),
7.pegawai negeri sipil (1.601), dan
8.anak sekolah/mahasiswa (1.268).
• Jumlah AIDS terbanyak dilaporkan dari:
1.Papua (10.116),
2.Jawa Timur (8.725),
3.DKI Jakarta (7.477),
4.Jawa Barat (4.131),
5.Bali (3.985),
6.Jawa Tengah (3.339),
7.Sulawesi Selatan (1.703),
8. Kalimantan Barat (1.699),
9. Sumatera Utara (1.301) dan
10. Banten (1.042).
1.Papua (10.116),
2.Jawa Timur (8.725),
3.DKI Jakarta (7.477),
4.Jawa Barat (4.131),
5.Bali (3.985),
6.Jawa Tengah (3.339),
7.Sulawesi Selatan (1.703),
8. Kalimantan Barat (1.699),
9. Sumatera Utara (1.301) dan
10. Banten (1.042).
• Faktor risiko penularan terbanyak
melalui :
1.heteroseksual (62.5%),
2.penasun (16.1%), diikuti
3.penularan mllui perinatal (2,7%),
4.dan homoseksual (2,4%).
melalui :
1.heteroseksual (62.5%),
2.penasun (16.1%), diikuti
3.penularan mllui perinatal (2,7%),
4.dan homoseksual (2,4%).
• Angka kematian (CFR) menurun
dari 3,79% pada tahun 2012mnjadi
1,67% pd bln Desember tahun 2013.
dari 3,79% pada tahun 2012mnjadi
1,67% pd bln Desember tahun 2013.
Sampai dengan Desember 2013, layanan HIV-AIDS yang aktif melaporkan di Indonesia:
1). 990 layanan Konseling dan Tes HIV (KT), termasuk Tes HIV dan Konseling yang diprakarsai oleh Petugas Kesehatan (TIPK).
1). 990 layanan Konseling dan Tes HIV (KT), termasuk Tes HIV dan Konseling yang diprakarsai oleh Petugas Kesehatan (TIPK).
2). 418 layanan PDP (Perawatan, Dukungan dan Pengobatan) yang aktif melakukan pengobatan ARV terdiri dari 284 RS Rujukan PDP (induk) dan 134 satelit.
3). 87 layanan PTRM (Program Terapi Rumatan Metadon).130 layanan
PPIA (Pencegahan Penularan dari Ibu ke Anak).
PPIA (Pencegahan Penularan dari Ibu ke Anak).
4). 223 layanan yang mampu melalukan layanan TB-HIV.
Dalam triwulan Oktober s.d. Desember 2013 dilaporkan tambahan kasus HIV & AIDS sebagaimana berikut:
HIV: 8624
AIDS: 2845
Jumlah kasus HIV & AIDS yang dilaporkan 1 Januari s.d. 31 Desember 2013 adalah:
HIV: 29037
AIDS: 5608
Secara kumulatif kasus HIV & AIDS 1 Januari 1987 s.d. 31 Desember 2013, terdiri dari:
HIV: 127.416
AIDS: 52.348
Jumlah kumulatif kasus AIDS menurut jenis kelamin :
- Laki-laki = 25.444
- Perempuan = 13.309
- Tak di ketahui = 6.897
- Jumlah = 45.650
- Perempuan = 13.309
- Tak di ketahui = 6.897
- Jumlah = 45.650
Jumlah kumulatif kasus AIDS menurut faktor risiko :
- Heteroseksual = 27.782
- Homo-biseksual = 1.134
- Penasun. = 7.962
- Transfusi darah = 92
- Transmisi perinatal = 1.279
- Tak diketahui = 7.147
- Homo-biseksual = 1.134
- Penasun. = 7.962
- Transfusi darah = 92
- Transmisi perinatal = 1.279
- Tak diketahui = 7.147
Jumlah kumulatif kasus AIDS menurut golongan umur :
1). <1 = 185
2). 1-4 = 824
3). 5-14 = 362
4). 15-19 = 1441
5). 20-29 = 15747
6). 30-39 = 13116
7). 40-49 = 4822
8). 49-59 = 1469
9). >60 = 455
10). Tak diketahui = 7229
Setelah membahas tentang HIV/AIDS, sekarang kita membahas teman terdekat dari HIV/AIDS yaitu Narkoba. Narkoba bukanlah sesuatu yang asing lagi bagi kita. Kita sering mendengar dan membaca berita tentang narkoba di media elektronik maupun media cetak. Di Indonesia, peredaran obat terlarang ini sudah menjadi salah satu permasalahan utama yang harus segera diatasi. Meluasnya narkoba di Indonesia terutama di kalangan generasi muda karena didukung oleh faktor budaya global. Budaya global dikuasai oleh budaya Barat (baca; Amerika Serikat) yang menyebarkan pengaruhnya melalui layar TV, VCD, dan film-film. Ciri utama budaya tersebut amat mudah ditiru dan diadopsi oleh generasi muda karena sesuai dengan kebutuhan dan selera pergaulan remaja. Pada tahun 2010, prevalensi penyalahgunaan narkoba meningkat menjadi 2,21 persen atau sekitar 4,02 juta orang. Tahun 2011, penyalahgunaan narkoba meningkat menjadi 2,8 persen atau sekitar 5 juta orang. Oleh karena itu dituntut adanya peran serta dari berbagai pihak di Indonesia yang dapat memerangi narkoba. Salah satunya konselor sebagai pendidik dilingkungan pendidikan juga dapat ikut berpartisipasi dalam upaya memerangi obat-obatan terlarang tersebut.
Hubungan antara HIV/AIDS dengan Narkoba sangatlah dekat. Karena saling berkesinambungan satu sama lain. Ketika seseorang sudah mulai kecanduan dengan Narkoba, maka tidak jauh-jauh dengan hal negatif lainnya yang bernama seks bebas. Seks bebas lah yang menyebabkan HIV/AIDS ini terjadi.
Faktor-faktor penyebab Narkoba dapat dibagi menjadi dua faktor, yaitu
Faktor internal yaitu faktor yang berasal dari dalam diri individu seperti kepribadian, kecemasan, dan depresi serta kurangya religiusitas.
Faktor eksternal yaitu faktor yang berasal dari luar individu atau lingkungan seperti keberadaan zat, kondisi keluarga, lemahnya hukum serta pengaruh lingkungan.
Narkoba merupakan zat adiktif (NAPZA) yang dalam setiap penggunaannya memunculkan rasa ketagihan. Maka dari itu, jangan pernah sekalipun kita mengenal dunia narkoba. Karena sekali mengkonsumsi, besar kemungkinan akan mengalami kecanduan pada narkoba yang akan menjurus kepada HIV/AIDS. Lebih baik mencegah, daripada mengobati.






0 komentar:
Posting Komentar