Selasa, 05 Januari 2016

Bisnis Inovatif, Olah Kulit Pisang menjadi Kerupuk

Bisnis Inovatif, Olah Kulit Pisang Jadi Kerupuk

Kulit pisang selama ini hanya dibuang di tempat sampah atau untuk pakan sapi maupun kambing. Bahkan, jika dibuang sembarangan dapat menyebabkan orang terpeleset.

Kulit pisang yang tidak punya nilai ekonomis itu, ternyata di tangan Lasio (58), warga Desa Sidomulyo, Kecamatan Bambanglipuro, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, diolah kembali menjadi kerupuk.

Meski hanya dari kulit pisang, kerupuk kulit pisang hasil olahan Lasio ini terbilang lezat, gurih, dan sedikit sepat di lidah.

Lasio yang juga sebagai ketua Koperasi Agro Murasa Boga Bantul (Amboy), Sidomulyo, Bambanglipuro ini juga pernah menciptakan keripik bonggol pisang dengan berbagai varian rasa.

Meski baru ditemukan sekitar April lalu, bahkan belum memasarkannya dalam jumlah banyak, ia tetap memperbolehkan masyarakat mengintip resep pembuatan kerupuk kulit pisang miliknya. Ternyata tidak sulit, hampir sama dengan pembuatan kerupuk lainnya.

"Pertama, kulit pisang yang masih hijau mentah dicuci terlebih dahulu, kemudian direbus sekitar setengah jam. Setelah ditiriskan, kulit tersebut kemudian dipotong dan diblender untuk diperas airnya," kata sang Lasio

Ampas kulit yang sudah halus, kemudian dicampur dengan komposisi adonan, yakni tepung tapioka 60 persen berbanding kulit pisang 40 persen, serta bumbu dua macam yakni bawang putih dan garam. Jika berminat, bisa ditambah campuran ebi, daun bawang, seledri, atau terasi.

"Adonan diulet dan dibungkus daun atau plastik seperti lontong untuk kemudian dimasukkan ke kulkas. Setelah itu, lontong kulit pisang tadi dikukus selama dua jam, untuk diiris tipis, dijemur kemudian digoreng," jelas Lasio.

Dalam pembuatan kerupuk kulit pisang, Lasio mengaku sempat menemui kendala seperti saat direbus hancur, karena seharusnya dikukus. Selain itu, sulit diiris karena tidak didinginkan dalam kulkas terlebih dahulu.

Menurut dia, sebaiknya kulit pisang yang digunakan masih mentah, karena kalau sudah matang akan lembek dan hitam. "Meski hanya kulit, kerupuk ini sudah diteliti kandungan gizinya oleh Universitas Gadjah Mada. Hasilnya positif, jadi tidak perlu diragukan," ujarnya.

Lasio mengaku belum memasarkan produknya, melainkan hanya menjual kepada para tetangga. Satu kilogram kerupuk mentah dibanderol Rp25 ribu atau Rp50 ribu untuk kerupuk yang sudah matang. Kerupuk yang masih mentah bisa tahan hingga enam bulan untuk disimpan.

Lari Jarak Pendek (Sprint)



Lari jarak pendek adalah semua perlombaan lari dimana peserta berlari dengan kecepatan penuh/maksimal sepanjang jarak yang harus ditempuh atau sampai jarak yang telah ditentukan. Pelarinya bisa juga disebut dengan Sprinter. Lari cepat meliputi jarak: 100 m, 200 m, 400m. Kelangsungan gerak pada sprint secara teknik sama, kalau ada perbedaan hanyalah terletak pada penghematan penggunaan tenaga karena perbedaan jarak yang harus ditempuh. Makin jauh jarak yang harus ditempuh makin membutuhkan daya tahan yang besar, sehingga ada yang dinamakan “edurance”.

Nomor Lari
-. Lari jarak pendek 100, 200, 400 meter
-. Lari jarak menengah 800, 1500 meter
-. Lari jarak jauh 5000, 10000 meter dan marathon 42,195 km
Dalam perlombaan lari, ada tiga cara start, ialah:
- Start berdiri (standing start)
- Start jongkok (crouching start)
- Start melayang (flying start) dilakukan hanya untuk pelari ke II, III dan IV dalam lari estapet 4 x 100 m.

Secara teknis penggunaan start jongkok yang digunakan sama. Yang membedakan hanyalah pada penghematan penggunaan tenaga, karena perbedaan jarak yang harus ditempuh. Makin jauh jarak yang harus ditempuh makin banyak tenaga yang harus dibutuhkan.

Teknik lari jarak pendek terbagi menjadi tiga, yaitu start jongkok, gerakan lari, dan teknik memasuki garis finish.
1). Start jongkok
Cara melakukan start jongkok adalah sebagai berikut:
• Posisi berjongkok dengan kedua kaki bertumpu pada sandaran blok start, lutut kaki belakang berada sejajr dengan ujung kaki depan.
• Kedua lengan lurus sejajr dengan bahu, dan jari-jari tangnan diletakkan dibelakang garis start.
• Berat badan bertumpu di kedua tangan, sehingga sikap seimbang dapat dipertahankan sampai ada aba-aba.
Start jongkok yang digunakan oleh pelari jarak pendek, dapat dibedakan menjadi 3, yaitu:
• Start jongkok pendek (bunch start): jarak kaki saat jongkok 14-28 meter
• Start jongkok menengah (medium start): jarak kaki saat jongkok 35-42 meter
• Start jongkok panjang (long start): jarak kaki saat jongkok 50-70 meter
Aba – aba start pada perlombaan lari sprint adalah sebagai berikut:
• Bersedia

Pelari menuju tempat start didepan blok start dengan melangkahkan mundur seperti merangkak, dengan meletakkan kaki pada blok start, yang disusul kaki belakang, kedua ujung kaki tetap menyentuh tanah, jari-jari tangan tepat di belakang garis start. Kedua lengan tetap dalam posisi lurus dengan sidikit melebar dari bahu. Bahu sedikit condong ke depan berat badan berada di tengah-tengah sehinggabadan dalam posisi seimbang. Punggung diangkat sedikit agak rata,otot leher dan rahang rileks, kepala bagian belakang segaris dengan punggung, pandangan ke bawah atau ke depan sekitar 1-2 meter dengan garis start dan konsentarsi dengan aba-aba selanjutnya.

Perhatikan!!! Pada aba-aba bersedia pelari maju menuju garis start untuk menempatkan kaki tumpu pada balok start, kaki yang kuat diletakan di depan. Letakkan tangan tepat di belakang garis start.

Hal-hal yang penting dalam sikap start:
1. Letak tangan lebih lebar sedikit dari bahu, jari-jari dan ibu jari membentuk huruf V terbalik, bahu condong ke depan/sedikit di depan tangan, lengan lurus.
2. Kepala sedemikian rupa sehingga leher tidak tegang, mata memandang ke lintasan kira-kira 2m atau pandangan di antara kedua lengan menghadap garis star.
3. Tubuh rileks/ tidak kaku
4. Pikiran dipusatkan pada aba-aba berikutnya.
5. Jarak letak kaki terhadap garis star tergantung dari bentuk sikap yang dipegunakan:
a. Bunch Start/Start Jongkok Jarak Pendek
Letak kaki belakang terpisah kira-kira 25 – 30 cm. ujung kaki belakang ditempatkan segaris dengan tumit kaki muka bila dalam sikap berdiri. Jarak kaki dari garis star kira-kira: kaki depan 45 cm, kaki belakang 70 cm, tergantung dari panjang tungkai.
b. Medium start/start jongkok jarak menengah
Pada waktu sikap berlutut, letak lutut kaki belakang di samping ujung kaki depan, jarak kaki dari garis star kira-kira kaki depan 37 cm, kaki belakng 85 cm, tergantung dari panjang tungkai.
c. Longated start/start jongkok jarak jauh
Pada waktu sikap lutut, letak lutut kaki belakang di samping bagian belakang dari tumit kaki depan, jarak kaki dai agis star kira-kira: kaki depan 32 cm, kaki belakang 100 cm, tergantung dari panjang tungkai masing-masing pelari.
• Siap
Angkat pinggul ke atas, dengan barat badan berada di kedua tangan dan pandangan ke bawah dengan mengikuti gerakan badan, kedua lengan dalam sikap lurus membentuk sudut 120 derajat.
Secara rinci gerakan pada aba-aba siap
Angkat pinggul kearah atas hingga sidikit lebih tinggi dari bahu, jadi garis punggung menurun kedepan. Berat badan lebih kedepan. Jaga keseimbngan sampai aba-aba berikutnya bunyi pistol. Kepala rendah, leher tetap rileks (santai aja!), pandangan ke arah garis star di antara bawah tangan. Lengan tetap lurus/ siku jangan bengkok. Pada waktu mengangkat pinggul disertai dengan mengambil nafas dalam-dalam. yang paling penting konsentrasi penuh pada bunyi pistol/ bunyi sempritan atau bunyi lainya yang disepakati bersama.
• Ya
Tolakkan kaki pada blok start, ayunkan kedua lengan ke depan secara bergantian dan berlawanan dengan gerakan kaki (jika tangan kanan didepan maka kaki kanan dibelakang, begitu juga sebaliknya).
Secara rinci
Ayunkan lengan kiri ke depan dan lengan kanan ke belakang kuat-kuat (gerakan lengan harus harmonis dengan gerak kaki). Kaki kiri menolak kuat-kuat sampai terkadang lurus. kaki kanan melangkah secepat mungkin, serendah mungkin mencapai tanah pada langkah pertama. Berat badan harus meluncur lurus kedepan, dari sikap jongkok berubah kesikap lari, berat badan harus naik sedikit demi sedikit tidak langsung tegak, hindarkan gerakan ke samping. Langkah lari makin lama makin menjadi lebar, enam sampai sembilan langkah pertama merupakan langkah peralihan. Bernafas seperti biasa, menahan nafas berarti menegakkan badan.
Suatu hal yang perlu mendapat perhatian sebelum melakukan star ialah pemanasan dengan sebaik-baiknya, merangsang persendian dan meregang otot-otot ditambah dengan gerakan lari cepat. Hal itu dilakukan untuk mencegah kemungkinan terjadinya cidera otot.

2). Gerakan lari
Gerakan sprint, dibagi menjadi 3 gerakan, yaitu:
• Posisi tubuh pada saat lari
Posisi tubuh/badan condong ke depan secara wajar, serta otot sekitar leher dan rahang tetap rileks dengan kepala dan punggung dalam posisi segaris. Pada saat lari mulut tertutup dan rapat serta pandangan ke depan lintasan.
• Ayunan kedua lengan
Ayunan lengan dilakukan dari belakang ke depan secara berganti-ganti dengan siku sedikit dibengkokkan.
• Gerakan langkah kaki
Langkah kaki panjang dan dilakukan secepat mungkin. Pendaratan kaki/tumpuan selalu pada ujung telapak kaki, sedangkan lutut sedikit dibengkokkan.

3). Memasuki finish
Memasuki garis finish merupakan suatu hal yang sangat penting untuk mencapai sukses. Keterlambatan persekian detik memasuki garis finish sangatlah rugi.
Teknik memasuki garis finish:
Ada beberapa cara yang dapat dilakukan pada waktu pelari mencapai finis.
-          Lari terus tanpa perubahan apapun.
-          Dada dicondongkan ke depan/ membusungkan dada kedepan, tangan kedua-duanya diayunkan ke bawah belakang, atau dalam bahasa jawa disebut ambyuk.
-          Dada diputar dengan ayunan tangan ke depan atas sehingga bahu sebelah maju ke depan, yang lazim disebut The String.
Jarak 20 meter terakhir sebelum garis finis meupakan perjungan untuk mencapai kemenangan dalam perlombaan lari, maka yang perlu diperhatikan adalah kecepatan langkah, jangan menengok lawan, jangan melompat, dan jangan perlambat langkah sebelum melewati garis finis.
Yang dilarang adalah:
• Meloncat pada saat memasuki garis finish
• Menarik/menggapai pita finish
• Berhenti mendadak atau mengurangi kecepatan digaris finish.
Dari ketiga teknik dalam lari sprint tersebut dapat disimpulkan sebagai berikut:
• Konsentrasilah pada saat start dan lari
• Pertahankan lari dari mulai start sampai garis finish
• 30 meter menjelang finish lari harus dipercepat
• Sikap lari tetap pada jalur lurus
• Badan tidak oleng ke kiri maupun kanan.

Gerakan Lari Jarak Pendek
Setelah melakukan gerakan start dengan langkah-langkah peralihan yang meningkat makin lebar dan condong badan yang berangsur-angsur berkurang, maka kemudian dilanjutkan dengan melakukan gerakan lari cepat.
Cara melakukan gerakan lari cepat sebagai berikut:
a. Kaki bertolak kuat-kuat sampai terkejang lurus. Lutut diangkat tinggi-tinggi (setinggi punggul). Tungkai bawah mengayun ke depan untuk mencapai langkah lebar (lebar langkah sesuai dengan panjang tungkai).
b. Usahakan agar badan tetap rileks, badan condong ke depan dengan lutut antara 25 – 30 derajat. Hal ini hanya dapat terlaksana bilamana gerak lengan tidak terlalu berlebih-lebihan.
c. Lengan bergantung di samping tubuh secara wajar. Siku ditekuk kira-kira 90 derajat. Tangan menggenggam kendor. Gerakan atau ayunan lengan ke muka dan ke belakang harus secara wajar, gerakan lengan makin cepat berimbang dengan gerakan kaki yang makin cepat pula.

Karangan Singkat Bahasa Indonesia Menggunakan Unsur Penarikan Silogisme

Paragraf 1
PU: Setiap orang yang ditakdirkan menjadi penyanyi pasti memiliki suara yang merdu
PK: Saya tidak memiliki suara yang merdu
K   : Saya bukan ditakdirkan untuk menjadi seorang penyanyi
Saya lahir dan dibesarkan di tengah-tengah keluarga sederhana. Sewaktu duduk di bangku taman kanak-kanak saya berangan-angan untuk menjadi seorang penyanyi terkenal, karena saya suka mendengarkan musik dan bernyanyi. Setiap orang yang ditakdirkan menjadi penyanyi pasti memiliki suara yang merdu, sedangkan saya tidak memiliki suara yang merdu. Jadi saya bukan ditakdirkan untuk menjadi seorang penyanyi. Akhirnya cita-cita itu saya kubur dan perlahan-lahan mulai lupa.
Paragraf 2
PU : Semua teman-teman TK mengikuti les vokal
PK : Beberapa teman-teman TK saya berbakat
K   : Jadi beberapa teman-teman saya tidak berbakat
Sedari kecil saya tidak pernah mau mengikuti les vokal. Karena menurut saya cita-cita tersebut terlalu tinggi dan saya berpikir bahwa cita-cita saya tidak didukung dengan kemampuan. Suara saya tidak merdu bahkan terkesan biasa saja. Semua teman-teman TK saya pada kala itu memiliki cita-cita yang sama dengan saya berlomba-lomba mengikuti les vokal. Beberapa dari mereka mulai terlihat mempunyai bakat dalam dunia tarik suara. Jadi bisa di katakan beberapa teman yang lainnya tidak punya bakat menyanyi.
Paragraf 3
PU : Cita-cita adalah acuan belajar
PK : Motivasi berperan penting dalam mempelajari segala hal
K   : Jadi motivasi adalah acuan belajar
Ketika saya beranjak dewasa, saya mulai mengenal lebih banyak teman dan tentunya pemikiran yang lebih luas. Saya mendengar cita-cita teman saya yang bernama Tiko begitu membuat saya terkesan, yaitu menjadi seorang TNI Angkatan Darat. Alasannya, ingin mengabdi kepada negara. Sejak kecil Tiko menanamkan cita-citanya sebagai acuan belajar saat mengenyam pendidikan di bangku SD, SMP, dan SMA. Sebelumnya, senior Tiko terlebih dahulu menjadi anggota TNI AD, Ia menjadikan seniornya itu sebagai motivasi sampai akhirnya pada tahun 2013 Ia lolos menjadi Taruna TNI AD. Menurut Tiko, motivasi berperan penting dalam proses belajar.
Paragraf 4
PU : Setiap orang mempunyai cita-cita
PK : Saya adalah orang
K   : Saya mempunyai cita-cita
Meskipun cita-cita saya pada masa taman kanak-kanak terkubur, saya sama sekali tidak merasa sedih. Mungkin memang bukan jalan hidup saya menjadi penyanyi. Setiap orang memiliki cita-cita begitupun saya. Ketika mulai mengerti arti kehidupan, saya bercita-cita ingin menjadi seorang pribadi yang baik agar diterima dengan baik pula di tengah-tengah masyarakat. Menjadi wanita karier dan mendapatkan kehidupan yang baik ke depannya adalah cita-cita saya.
Paragraf 5
PU : Ada orang yang menjadikan hobi sebagai pekerjaannya
PK : Banyak orang yang senang dengan pekerjaannya
K    : Jadi orang yang senang adalah orang yang menjadikan hobi sebagai pekerjaannya

Cita-cita  akan mudah terwujud apabila di dukung dengan hobi. Banyak orang yang mengatakan bahwa pekerjaan yang menyenangkan adalah pekerjaan yang berangkat dari hobi masing-masing individu. Misalnya, Chef Marinka sedari kecil hobi memasak dan sekarang beliau berprofesi sebagai koki, Raisa hobi menyanyi dan sekarang menjadi penyanyi muda terkenal, Designer Anna Avantie hobi menjahit dan sekarang menjadi penjahit ternama di kalangan selebriti. Orang yang menjadikan hobi sebagai pekerjaannya pasti akan tekun dan dengan ikhlas menjalankan pekerjaannya. Jadi dapat disimpulkan bahwa orang yang senang dengan pekerjaannya ialah orang yang menjadikan hobinya sebagai profesinya.

Kenali Perbedaan HIV dan AIDS



Selama ini, banyak di antara kita yang masih salah kaprah dengan menganggap HIV dan AIDS itu adalah sama. Keduanya dianggap sebagai penyakit yang sama padahal keduanya jelas memiliki perbedaan walau memang memiliki keterkaitan atau hubungan yang amat sangat dekat. Lalu, apa sih HIV dan apa itu AIDS? Ada baiknya kita mengenal keduanya dengan baik agar tidak salah memberikan pengertiannya. HIV atau kepanjangan dari human immunodeficiency syndrome adalah virus yang menyerang sistem kekebalan tubuh manusia. Sedangkan AIDS atau kepanjangan dari acquired immune deficiency syndrome adalah penyakit yang disebabkan karena HIV. Jadi, bila HIV adalah sebab, maka AIDS adalah akibat. HIV berupa virus yang menjadi awal terjangkitnya AIDS
Proses dari HIV menuju AIDS berbeda- beda, tergantung bagaimana sistem kekebalan tubuh setiap orang. Ada yang membutuhkan waktu sekitar 5 – 10 tahun, dan ada pula yang hanya membutuhkan waktu beberapa bulan. Karena virus ini menyerang kekebalan tubuh, kembali lagi virus ini tergantung kepada sistem imun seseorang. Bila kondisi penderita sangat lemah, proses dari HIV menjadi AIDS bisa hanya dalam hitungan bulan saja. Begitupun sebaliknya. Seseorang yang sudah divonis terinfeksi HIV bisa jadi tidak sampai terkena AIDS bila segera diberi penanganan dengan baik. Bisa saja penderita tersebut hanya terinfeksi HIV seumur hidupnya, tanpa AIDS. Namun, memang sebagian besar, siapapun yang sudah terinfeksi HIV, cepat atau lambat akan terkena AIDS.
Bisa dikatakan HIV adalah akarnya, sedangkan AIDS adalah pohonnya. Sehingga, bila ingin memberantas, seharusnya dari awal sejak divonis HIV dan tak harus menunggu menjadi AIDS. HIV menjadi awal terjadinya penyakit AIDS yang mematikan. Maka, sebelum AIDS itu menyerang sebaiknya menghindari hal-hal yang bisa membuat kita terjangkit virus HIV.
Begitu besar ketakutan ODHA (Orang Dengan HIV/AIDS) seandainya mereka harus mengaku bahwa mereka pengidap HIV/AIDS. Mereka takut dikucilkan di tengah-tengah masyarakat mengingat stigma negatif penyakit ini sangat kuat. Masyarakat beranggapan bahwa pengidap HIV/AIDS perlu dijauhi. Hal ini disebabkan oleh kurangnya informasi dan kekeliruan pola pikir masyarakat tentang HIV/AIDS, mereka hanya menilai ODHA penuh dengan keburukan. Pemikiran ini yang harus di ubah agar masyarakat tahu bahwa benar HIV/AIDS adalah penyakit mematikan yang sepatutnya kita hindari, maka dari itu jauhi penyakitnya, bukan orangnya. Agar ODHA merasa nyaman berada di tengah-tengah masyarakat tanpa rasa takut.
Stigma negatif yang hinggap pada pasangan serodiskorda, yaitu pasangan yang salah satu diantaranya adalah pengidap HIV/AIDS mempersulit jangkauan pencegahan. Anggapan bahwa ancaman HIV/AIDS hanya berlaku bagi pemilik sifat yang beresiko terkadang membuat pasangannya mengabaikan aspek kesehatan dan merasa tidak perlu untuk memeriksakan status infeksinya. Padahal, kesadaran akan pencegahan dini HIV/AIDS sangat penting dan dianjurkan di semua kalangan agar seandainya kelak sepasang kekasih menikah, mereka tidak melahirkan keturunan pengidap HIV/AIDS juga.
Peran serta pemerintah dalam memberikan pendidikan serta pengetahuan kepada masyarakat menunjukkan hasil yang baik, namun pendidikan dan pengetahuan yang diberikan oleh pemerintah tidaklah cukup untuk mengubah stigma yang terlanjur tertanam di tengah masyarakat kepada ODHA. Suatu pola pikir yang sudah melekat  sejak lama di dalam masyarakat sangat sulit dihilangkan atau hanya sekedar diubah. Masyarakat membutuhkan pembuktian yang nyata dalam kehidupan bermasyarakat untuk merubah stigma tersebut. Segala tindakan yang dilakukan oleh ODHA akan menjadi sorotan bagi masyarakat.













HIV/AIDS merupakan momok yang menakutkan dalam masyarakat, karena disebut-sebut sebagai penyakit yang tidak bisa sembuh dan sejauh ini belum ditemukan obat untuk menyembukan HIV/AIDS. Ketakutan ini memunculkan beberapa mitos dan fakta seputar HIV/AIDS.
Berikut adalah mitos dan fakta HIV/AIDS yang berkembang di masyarakat:
Terinfeksi HIV sudah pasti terkena AIDS (Mitos)
HIV adalah virus yang menyerang sistem kekebalan tubuh sehingga membuat tubuh sulit untuk melawan penyakit. Penderita HIV belum tentu juga menderita AIDS. Bahkan dengan perawatan yang tepat para penderita HIV dapat bertahan tanpa berkembang menjadi AIDS.
Sulit terkena HIV dari kontak langsung (Fakta)
Kebanyakan orang beranggapan bahwa penderita HIV harus dijauhi karena takut tertular. Padahal kenyataannya, virus tidak akan menyerang hanya dengan memeluk atau bersentuhan (pegangan tangan). Virus dapat menyebar jika Anda melakukan hubungan seksual maupun berbagi jarum suntik.
Waktu hidup singkat (Mitos)
Virus HIV bisa memiliki efek berbeda pada setiap orang. Ada yang dalam beberapa bulan, virus HIV sudah berkembang menjadi AIDS dan langsung melemahkan sistem kekebalan tubuh. Namun ada juga beberapa orang yang dapat bertahun-tahun bertahan tanpa harus berkembang menjadi AIDS.
HIV dapat disembuhkan (Mitos)
Hingga saat ini belum ditemukan obat untuk menyembuhkan penyakit tersebut. Tetapi ada perawatan dengan melakukan terapi antiretroviral (ART) untuk melemahkan virus dan membantu sistem kekebalan tubuh. Tetapi dokter akan mempertimbangkan terlebih dahulu kesehatan umum, kesehatan sistem kekebalan serta jumlah virus yang ada dalam tubuh. Tujuannya adalah untuk memutuskan kapan dapat dimulai pengobatannya.
Ibu hamil pengidap HIV dapat menularkan pada bayinya (Fakta)
Ibu yang terinfeksi virus HIV dapat menularkan kepada bayinya selama proses kehamilan atau pun melahirkan. Namun, Anda dapat menurunkan risiko tersebut dengan melakukan konsultasi dengan dokter, sehingga pihak medis dapat memberikan perawatan dan pengobatan yang tepat.
Indonesia sendiri merupakan negara yang di setiap daerahnya terdapat penderita HIV. Hampir setiap provinsi dan kabupaten melaporkan adanya kasus HIV. Peningkatan prevalensi seks bebas banyak terjadi di kota-kota besar bahkan desa terpencil sekalipun. Seks bebas tidak pandang usia, kasus ini mengintai banyak kalangan mulai dari usia remaja sampai usia senja yang menyukai hal-hal berbau sensual. Hal ini membuat rantai HIV/AIDS sulit untuk diputus, sebab sangat sedikit bahkan tidak ada kesadaran dan perubahan sikap yang signifikan terhadap kasus seks bebas. Artinya, selama di Indonesia seks bebas masih dianggap umum, selama itu pula HIV/AIDS menjadi ancaman dan terus memakan korban.
Pada akhir September 2007 jumlah kumulatif kasus AIDS yang dilaporkan sebanyak 10.384 dan kasus HIV sebanyak 5.904. Secara berurutan jumlah penderita paling banyak adalah di Jawa Barat, Jawa Timur, DKI Jakarta, Papua, Bali, Kalimantan Barat, Jawa Tengah, Sumatera Utara, Riau, dan Kepulauan Riau. HIV/AIDS sekarang merupakan kasus tertinggi ke empat pada wanita usia 25-44 tahun dan penyebab utama kematian pada wanita kulit hitam pada kelompok umur ini . Pada wanita usia ini merupakan usia subur dan akan mengalami kehamilan yang membutuhkan program khusus dan perhatian dalam transmisi perinatal.
Transmisi vertikal HIV dari ibu ke anak dapat timbul dari intra uterin, selama persalinan atau postpartum. Sehingga dapat meningkatkan angka kematian bayi karena sebagian besar penyebaran HIV/ AIDS melalui transmisi vertikal, apabila lahir dengan selamat kemungkinan bayi tidak terinfeksi kecil dan biasanya terkena pada usia dibawah 5 tahun. Transmisi vertikal timbul mendekati 25-30% dari bayi yang lahir dari ibu yang tidak mendapat pengobatan anti virus selama kehamilan, sedangkan waktu terjadinya infeksi vertikal dari HIV belum dapat ditentukan dengan baik.
Penularan HIV/AIDS berdasarkan berbagai sumber teridentifikasi melalui berbagai kemungkinan hubungan antarpersonal diantaranya sebagai berikut:
1. Melalui hubungan seksual bebas yang tidak melalui pelindung yang aman.
2. Melalui transfusi darah yang tidak diperiksa terlebih dahulu hasil dari transfusi     tersebut.
3. Melalui jarum suntik yang tidak stiril.
4. Dari seorang perempuan yang terinfeksi dimana ia sedang mengandung janin,  dan bisa terjadi saat pemberian ASI.
5 .Hubungan seksual dalam suatu ikatan perkawinan, dimana salah satu pasangan terinfeksi virus HIV.
6. Dari air liur dan air mata, yang kemudian masuk dalam tubuh orang yang sehat.
Data Statistik HIV/AIDS di Indonesia
Laporan Kasus HIV-AIDS di Indonesia sampai dengan Desember 2013, yang diterima dari Ditjen PP & PL, berdasarkan surat Direktur Jenderal P2PL, Prof. dr. Tjandra Y Aditama, SpP(K), DTM&H tertanggal 14 Februari 2014:
Laporan perkembangan HIV-AIDS di Indonesia, Triwulan IV Tahun 2013. Sejak periode Juli-Desember 2012, terjadi perubahan dan perkembangan data dalam laporan pasca Kegiatan Validasi dan Harmonisasi Data bersama seluruh provinsi di Indonesia bulan Mei 2012. Hal ini dilakukan dalam rangka peningkatan kualitas laporan. Laporan tahun 2012 dan sebelumnya adalah benar-benar kasus ditemukan pada tahun yang bersangkutan.
Laporan perkembangan HIV-AIDS di Indonesia, Triwulan IV Tahun 2013 sebagai berikut:
Situasi Masalah HIV-AIDS Triwulan IV (Oktober-Desember) Tahun 2013
1 . HIV
• Dari bulan Oktober sampai dengan Desember 2013 jumlah infeksi HIV baru yang dilaporkan sebanyak 8.624 kasus.
• Persentase infeksi HIV tertinggi dilaporkan pada kelompok umur 25-49 tahun (70,4%), diikuti kelompok umur 20-24 tahun (16,4%), dan kelompok umur >= 50 tahun (5,3%).
• Rasio HIV antara laki-laki dan perempuan adalah 1:1.
• Persentase faktor risiko HIV tertinggi adalah hubungan seks berisiko pada heteroseksual (52,0%), LSL (Lelaki Seks Lelaki) (14,3%), dan penggunaan jarum suntik tidak steril pada penasun (6,6%).
2 . AIDS
• Dari bulan Oktober sampai dengan Desember 2013 jumlah AIDS yang dilaporkan baru sebanyak 2.845 orang.
• Persentase AIDS tertinggi pada 
* kelompok umur 30-39 tahu (26%),
* diikuti kelompok umur 20-29 thun (25,3%) dan 
* kelompok umur 40-49 th (11,6%).
• Rasio AIDS antara laki-laki dan perempuan adalah 2:1.
• Persentase faktor risiko AIDS tertinggi adalah hubungan seks berisiko pada heteroseksual (78%), penggunaan jarum suntik tidak steril pada penasun (9,3%), 
LSL (Lelaki Seks Lelaki) (4,3%) dandari ibu positif HIV ke anak (2,6%).
Situasi Masalah HIV-AIDS Tahun 1987 - Desember 2013

Sejak pertama kali ditemukan tahun 1987 sampai dengan Desember 2013, HIV-AIDS tersebar di 368 (72%) dari 497 kabupaten/kota di seluruh provinsi di Indonesia. Provinsi pertama kali ditemukan adanya kasus HIV-AIDS adalah Provinsi Bali, sedangkan yang terakhir melaporkan adalah Provinsi Sulawesi Barat pada tahun 2011.
1 . HIV
• Sampai dengan tahun 2005 jumlah 
kasus HIV yg dilaporkan sebanyak 859,
tahun 2006 (7.195),
tahun 2007 (6.048), 
tahun 2008 (10.362), 
tahun 2009 (9.793), 
tahun 2010 (21.591), 
tahun 2011 (21.031), 
tahun 2012 (21.511).
• Jumlah kumulatif infeksi HIV yang
dilaporkan smpi dengan Desember 
2013 sebanyak 127.427).
• Jumlah infeksi HIV tertinggi yaitu di
1. DKI Jakarta (28.790), 
2.Jawa Timur (16.253), 
3.Papua (14.087), 
4.Jawa Barat (10.198) dan 
5.Bali (8.059).
2 . AIDS
• Sampai dengan tahun 2005 jumlah 
kasus AIDS yang dilaporkan 
sebanyak (5.003), 
- tahun 2006 (3.531), 
- tahun 2007 (4.462), 
- tahun 2008 (4.995), 
- tahun 2009 (5.986), 
- tahun 2010 (6.867) dan 
- tahun 2011 (7.286), 
- tahun 2102 (8.610), dan 
- Desember 2013 (5.608).
• Jumlah kumulatif AIDS dari tahun 1987 sampai dengan Desember 2013 sebanyak 52.348 orang.
• Persentase kumulatif kasus AIDS tertinggi pada : 
A). kelompok umur 20-29 tahun (34,2%), 
B). kemudian diikuti kelompok umur 30-39 tahun (29%), 
C). 40-49 tahun (10,8%), 
D). 15-19 (3,3%), dan 
E). 50-59 tahun (3,3%).
• Persentase AIDS pada Laki-laki sebanyak 55,1% dan Perempuan 29,7%. Sementara itu 15,2% tidak melaporkan jenis kelamin.
• Jumlah AIDS tertinggi adalah pada
1.ibu rumah tangga (6.230), diikuti
2. wiraswasta (5.892), 
3.tenaga non-profesional/karyawan (5.287), 
4.petani/peternak/nelayan (2.261), 
5.buruh kasar (2.047), 
6.penjaja seks (2.021), 
7.pegawai negeri sipil (1.601), dan 
8.anak sekolah/mahasiswa (1.268).
• Jumlah AIDS terbanyak dilaporkan dari: 
1.Papua (10.116), 
2.Jawa Timur (8.725), 
3.DKI Jakarta (7.477), 
4.Jawa Barat (4.131), 
5.Bali (3.985), 
6.Jawa Tengah (3.339), 
7.Sulawesi Selatan (1.703),
8. Kalimantan Barat (1.699),
9. Sumatera Utara (1.301) dan
10. Banten (1.042).



• Faktor risiko penularan terbanyak 
melalui : 
1.heteroseksual (62.5%), 
2.penasun (16.1%), diikuti 
3.penularan mllui perinatal (2,7%),
4.dan homoseksual (2,4%).
• Angka kematian (CFR) menurun 
dari 3,79% pada tahun 2012mnjadi 
1,67% pd bln Desember tahun 2013.

Sampai dengan Desember 2013, layanan HIV-AIDS yang aktif melaporkan di Indonesia:
1). 990 layanan Konseling dan Tes HIV (KT), termasuk Tes HIV dan Konseling yang diprakarsai oleh Petugas Kesehatan (TIPK).
2). 418 layanan PDP (Perawatan, Dukungan dan Pengobatan) yang aktif melakukan pengobatan ARV terdiri dari 284 RS Rujukan PDP (induk) dan 134 satelit.
3). 87 layanan PTRM (Program Terapi Rumatan Metadon).130 layanan
PPIA (Pencegahan Penularan dari Ibu ke Anak).
4). 223 layanan yang mampu melalukan layanan TB-HIV.

Dalam triwulan Oktober s.d. Desember 2013 dilaporkan tambahan kasus HIV & AIDS sebagaimana berikut:
HIV: 8624
AIDS: 2845
Jumlah kasus HIV & AIDS yang dilaporkan 1 Januari s.d. 31 Desember 2013 adalah:
HIV: 29037
AIDS: 5608
Secara kumulatif kasus HIV & AIDS 1 Januari 1987 s.d. 31 Desember 2013, terdiri dari:
HIV: 127.416
AIDS: 52.348



Jumlah kumulatif kasus AIDS menurut jenis kelamin :
- Laki-laki = 25.444
- Perempuan = 13.309
- Tak di ketahui = 6.897
- Jumlah = 45.650

Jumlah kumulatif kasus AIDS menurut faktor risiko :
- Heteroseksual = 27.782
- Homo-biseksual = 1.134
- Penasun. = 7.962
- Transfusi darah = 92
- Transmisi perinatal = 1.279
- Tak diketahui = 7.147

Jumlah kumulatif kasus AIDS menurut golongan umur :
1). <1 = 185
2). 1-4 = 824
3). 5-14 = 362
4). 15-19 = 1441
5). 20-29 = 15747
6). 30-39 = 13116
7). 40-49 = 4822
8). 49-59 = 1469
9). >60 = 455
10). Tak diketahui = 7229






Setelah membahas tentang HIV/AIDS, sekarang kita membahas teman terdekat dari HIV/AIDS yaitu Narkoba. Narkoba bukanlah sesuatu yang asing lagi bagi kita. Kita sering mendengar dan membaca berita tentang narkoba di media elektronik maupun media cetak. Di Indonesia, peredaran obat terlarang ini sudah menjadi salah satu permasalahan utama yang harus segera diatasi. Meluasnya narkoba di Indonesia terutama di kalangan generasi muda karena didukung oleh faktor budaya global. Budaya global dikuasai oleh budaya Barat (baca; Amerika Serikat) yang menyebarkan pengaruhnya melalui layar TV, VCD, dan film-film. Ciri utama budaya tersebut amat mudah ditiru dan diadopsi oleh generasi muda karena sesuai dengan kebutuhan dan selera pergaulan remaja. Pada tahun 2010, prevalensi penyalahgunaan narkoba meningkat menjadi 2,21 persen atau sekitar 4,02 juta orang. Tahun 2011, penyalahgunaan narkoba meningkat menjadi 2,8 persen atau sekitar 5 juta orang. Oleh karena itu dituntut adanya peran serta dari berbagai pihak di Indonesia yang dapat memerangi narkoba. Salah satunya konselor sebagai pendidik dilingkungan pendidikan juga dapat ikut berpartisipasi dalam upaya memerangi obat-obatan terlarang tersebut.
Hubungan antara HIV/AIDS dengan Narkoba sangatlah dekat. Karena saling berkesinambungan satu sama lain. Ketika seseorang sudah mulai kecanduan dengan Narkoba, maka tidak jauh-jauh dengan hal negatif lainnya yang bernama seks bebas. Seks bebas lah yang menyebabkan HIV/AIDS ini terjadi.
Faktor-faktor penyebab Narkoba dapat dibagi menjadi dua faktor, yaitu
Faktor internal yaitu faktor yang berasal dari dalam diri individu seperti kepribadian, kecemasan, dan depresi serta kurangya religiusitas.
Faktor eksternal yaitu faktor yang berasal dari luar individu atau lingkungan seperti keberadaan zat, kondisi keluarga, lemahnya hukum serta pengaruh lingkungan.

Narkoba merupakan zat adiktif (NAPZA) yang dalam setiap penggunaannya memunculkan rasa ketagihan. Maka dari itu, jangan pernah sekalipun kita mengenal dunia narkoba. Karena sekali mengkonsumsi, besar kemungkinan akan mengalami kecanduan pada narkoba yang akan menjurus kepada HIV/AIDS. Lebih baik mencegah, daripada mengobati.